Tampilkan postingan dengan label TECHNO » Science. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TECHNO » Science. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Juni 2013

NASA: Asteroid Besar Mendekat, Bumi Terancam


detail berita
(Foto: Discovery)

CALIFORNIA - NASA menemukan near-Earth object (NEO), berupa asteroid besar yang kabarnya tengah bergerak mendekati Bumi. Sebagian besar dari bongkahan batu luar angkasa ini merupakan es yang tidak berbahaya.

Dilansir Discovery, Rabu (26/6/2013), NEO merupakan asteroid dan komet yang mendekati Bumi. Benda luar angkasa tersebut kabarnya masih berada di jarak 28 juta mil (45 juta kilometer) dari Bumi.

NEO, yang merupakan sekelompok batu luar angkasa datang dalam berbagai ukuran. Kabarnya, asteroid terbesar bernama 1036 Ganymed bisa mencapai ukuran lebar 25 mil (41 kilometer).

Kini, NASA telah menemukan NEO baru yang memiliki ukuran lebar sekira 300 meter. Asteroid tersebut diberi kode nama 2013 MZ5.

"Menemukan 10.000 NEO merupakan pencapaian yang penting," ungkap Lindley Johnson dari NASA Near-Earth Object Observations (NEOO). Ia mengatakan, kemungkinan asteroid lainnya bisa ditemukan dan tidak menutup kemungkinan bahwa asteroid tersebut bisa memberi dampak kerusakan terhadap Bumi.

NASA memprediksi ada lebih dari 100 ribu batu luar angkasa yang belum diidentifikasi. Hal ini merupakan tantangan bagi NASA untuk dapat menemukan ratusan ribu bongkahan batu luar angkasa tersebut.

Asteroid terbaru ini ditangkap melalui teleskop Pan-STARRS-1 yang merupakan salah satu kegiatan yang didanai NASA. 2013 MZ5 mungkin dianggap tidak berbahaya, namun kewaspadaan perlu diperhatikan untuk mencegah ancaman bagi Bumi di masa mendatang.

Penemuan 2013 MZ5 adalah yang terbaru. Pencapaian ini telah dibuat oleh proyek-proyek NASA selama 15 tahun terakhir.

"Near-Earth object (NEO) yang pertama ditemukan pada 1898," tutur Don Yeomans, manajer NASA’s Near-Earth Object Program Office di Jet Propulsion Laboratory (JPL) di Pasadena, California.

Ia mengungkapkan, selama seratus tahun ke depan, hanya sekira 500 asteroid yang ditemukan. "Namun kemudian, dengan munculnya program pengamatan NEO NASA pada 1998, kami telah menemukan sejumlah NEO," imbuhnya.

Menurutnya, seiring perkembangan teknologi yang semakin maju dan didukung sistem canggih, peneliti bisa mempelajari NEO dengan lebih mendalam, yang ada di sistem tata surya. Selain itu, dengan majunya teknologi seperti teleskop luar angkasa, peneliti juga dapat memperkirakan seperti apa asteroid ini di masa depan.
http://techno.okezone.com

Iran Klaim Berhasil Kloning Domba Rovana


detail berita

ISFAHAN - Ilmuwan Iran menyatakan bahwa mereka telah berhasil mengkloning domba dengan sukses hingga domba berusia 15 bulan.

Kepala Institut Penelitian Royan di Isfahan, Mohammad Hossein Nasr e Isfahani menyatakan bahwa domba hasil kloning itu bisa makan dengan baik dan bergembira bersama kawanan domba lainnya. Domba jantan itu diberi nama Rovana yang lahir pada tanggal 30 September 2006 di pusat kota Isfahan, kurang dari dua bulan negara itu mengkloning anak domba yang meninggal dalam hitungan menit.

Namun, menurut Muhammad, Rovana berhasil bertahan setelah masa komplikasi pascakelahiran. Namun saat ini keberhasilan Rovana merupakan sebuah penghargaan dan penemuan terbesar bagi negeri kaya minyak itu. Upaya dari Iran ini merupakan bagian dari misi untuk menjadi negara dengan teknologi hightech di Asia Barat pada tahun 2025. Teheran juga telah meluncurkan sebuah program antariksa, meskipun di sisi lain kontroversi uranium masih menyelimuti Iran dengan negara Barat.

"Rovana adalah penghargaan ilmiah yang sangat sukses. Kami sangat bangga dengan hal itu. Domba ini merupakan hasil dari upaya kami dalam hal stem cell selama bertahun-tahun," kata Mohammad seperti dikutip Associated Press.
http://techno.okezone.com

Tikus Berhasil Dikloning dari Setetes Sel Darah Putih


detail berita
Kloning dari sel darah putih (Foto: Softpedia)

TOKYO – Para ilmuwan dari Riken BioResource Center di Jepang menjelaskan bahwa mereka dapat mengkloning tikus menggunakan sel darah yang dikumpulkan dari ekor tikus lainnya. Menariknya, tikus hasil rekayasa genetika itu tetap dapat menjalani hidup dengan normal.

Dilansir Softpedia, Sabtu (29/6/2013), jtikus yang digunakan untuk eksperimen harus berjenis kelamin betina. Agar dapat memperoleh spesimen kloning, para ilmuwan harus mengisolasi sel darah putih (leukosit) yang ditemukan dalam ekor tikus.

Wikipedia menjelaskan, sel darah putih tidak berwarna, memiliki inti, dapat bergerak secara amoebeid, dan dapat menembus dinding kapiler/diapedesis. Di dalam tubuh, leukosit tidak berasosiasi secara ketat dengan organ atau jaringan tertentu, mereka bekerja secara independen seperti organisme sel tunggal.

Sel-sel darah putih tersebut kemudian disuntikkan ke dalam sel telur DNA yang sudah tersedia. Setelah masuk ke dalam sel telur, inti dari sel darah putih akan terdorong untuk berubah menjadi embrio tahap awal.

Prosedur ini juga digunakan pada saat para ilmuwan hendak mengkloning seekor domba bernama Dolly. Adapun, metode kloning ini disebut sebagai transfer sel somatic nuklir.

Hingga saat ini, hewan kloning berhasil diciptakan dengan bantuan inti sel darah putih yang telah diekstraksi dari kelenjar getah bening dan hati. Melalui keberhasilannya ini, para ilmuwan Jepang menunjukkan bahwa untuk pertama kalinya tikus bisa dikloning menggunakan inti leukosit.
http://techno.okezone.com